Sensor

Beberapa tahun terakhir ini gue jarang banget nonton TV. Buat gue TV Lokal sudah tidak ada daya tariknya lagi. Selain dari tayangan berita, acara TV lokal lainnya rata-rata sampah: sinetron, acara joged ga jelas, acara jualan property dll. Belakangan gue dapet alasan baru untuk bener-bener berhenti nonton TV lokal: sensor.

Don’t get me wrong, buat gue sensor bukan sesuatu hal yang buruk. Sensor itu perlu agar para pelaku media dan seni ga kebablasan dalam berkarya. Tapi belakangan standar sensor yang ada di Indonesia sudah sangat berlebihan.

Ada beberapa metode sensor konyol yang baru muncul paling tidak 1-2 tahun terakhir. Yang pertama sensor pada bagian tangan atau mulut ketika adegan merokok. yang kedua sensor adegan ciuman. Untuk adegan french kiss mungkin masih dimaklumi tapi sayangnya adegan smooch atau quick kiss pun sekarang dipotong. Dan terakhir, yang menurut gue paling ga penting adalah sensor di bagian belahan dada. Sebenernya masih banyak metode sensor lain yang baru muncul belakangan ini. Tapi diantara semuanya tiga metode inilah yang menurut gue paling mengganggu.

Yang jadi pertanyaan, apakah sensor seperti ini masih efektif di zaman yang serba canggih seperti sekarang?

Gue ambil contoh ketika tayangan Grammy Awards di NET beberapa minggu yang lalu. Seperti biasa tayangan itu dapet sensor yang lumayan banyak. Bahkan ada dua performance artis-nya yang dipotong. Sumpah jadi ga nikmat dech nontonnya.

Kalau dulu kita cuma bisa pasrah waktu tayangan yang kita tonton disensor. Kalau sekarang? Tinggal buka Indowebster atau Youtube, download videonya, beres! Kita bisa menonton ulang tayangan yang kita mau tanpa disensor sedikitpun.

Gue pun kemarin download tayangan Grammy dari Indowebster karena ga puas dengan yang ditayangin di NET. Gue juga penasaran dengan performance Pink & Macklemore yang disensor. Ga disangka-sangka ternyata dua performance ini adalah yang terbaik sepanjang malam itu. Satu lagi yang bikin penasaran adalah kenapa belahan dada Alicia Keys disensor tapi Yoko Ono, yang berdiri di sebelahnya ga disensor. Untuk yang satu ini gue ga dapet jawabannya.

Gue bener-bener ga habis pikir di zaman yang sudah serba maju dan modern ini entah kenapa Lembaga Sensor Film malah memperketat standar sensor seperti sekarang. Buat gue ini adalah suatu kemunduran.

Jadi selama sistem sensor di Indonesia masih seperti itu gue ga akan pernah nonton TV lokal, kecuali untuk nonton tayangan berita. Buat apa nonton TV lokal yang serba disensor kalau semua tontonan kita bisa didapat dengan mudah dari Internet?

Iklan

Diterbitkan oleh

Cical

Pop culture enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s